Tampilkan postingan dengan label Kritik Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kritik Sosial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Maret 2023

DUNIA SEAKAN BERHENTI BERPUTAR

Selama keadilan masih sekedar khayalan
Impian patut untuk diperjuangkan
Selama kemakmuran masih sekedar impian
Keadilan wajib untuk ditegakkan

Dunia seakan berhenti berputar
Ketika tirani menguasai akal manusia
Dunia seakan berhenti berputar
Ketika nafsu mengendalikan akal manusia

Perang besar diberbagai belahan bumi
Semakin ramai tak kunjung berhenti
Kelaparan, kehausan dan rasa ketakutan
Bunyi letupan senapan merusak pendengaran

Dimana lagi mencari tempat sembunyi
Lelah dikejar serdadu gila haus darah
Harga diri sudah tiada artinya lagi
Rasa malu tercampakkan binalnya gairah

Dunia seakan berhenti berputar
Mayat berserakan di tengah reruntuhan
Dunia seakan berhenti berputar
Pertanda berakhirnya sebuah peradaban

Rabu, 20 Juli 2022

MUNCULNYA G.N.A.I. ADALAH PEMBODOHAN POLITIK

 
Oleh : Ust. Zainal Abdi Alamsyah L.C.
 
Gerakan Nasional Anti Islamophobia (GNAI) adalah sebuah paket khusus yang menjadi buah bibir belakangan ini.
Motifnya sama dengan Gerakan Nasional Pengawas Fatwa Ulama (GNPF-Ulama). Kedua gerakan receh ini sudah ketahuan belangnya sejak awal deklarasi. 
 
Ujung-ujungnya jelas mendukung salah satu kandidat calon presiden RI, tapi itu tidak mempan bagi orang-orang yang sudah dikibuli.
 
Kesuksesan GNPF-Ulama yang membawa Anies Baswedan menjadi Gubernur DKI nampaknya sudah membayang-bayangi GNAI.
 
Sosok penting dibalik suksesnya GNPF-Ulama yang membuat Anies Baswedan nangkring di kursi DKI-1 adalah Yusuf Martak.
Yusuf Martak sendiri ketika diwawancarai tadi pagi lewat telepon video mengatakan pendapatnya dengan sedikit berkelakar. "GNAI mungkin masih terbayang-bayang oleh kesuksesan GNPF, Tapi apakah GNAI sukses mengantar jagoannya memenangkan Pemilu ?... Nampaknya saya rasa belum bisa sama sekali karena cuma tipu daya belaka" ujar Yusuf Martak dalam wawancara eksklusif.
 
"GNPF masih punya tempat di hati umat Islam, bahkan propaganda-propaganda nya masih berseliweran di media sosial' tapi ini kan lain lagi... Saya juga ikut senang GNAI muncul sebagai kawan perjuangan, tapi saya juga menganggap mereka juga lawan" kata Yusuf Martak.
 
"Saya berpikir bahwa GNPF mendukung GNAI itu sah-sah saja tapi kalau kedua kelompok ini berbeda tujuan meski di jalur yang sama' rasa-rasanya GNAI tidak lebih dari omong kosong" ungkap Yusuf Martak dalam telepon Video.
 
Yusuf Martak sadar bahwa GNPF mulai memiliki rival sekaligus mitra perjuangan karena sama-sama berada di jalur oposisi. Tetapi, kalau GNPF dan GNAI berbeda pilihan soal capres' maka akan ada gesekan diantara keduanya dan makin memperparah situasi.
 
"Seharusnya mereka berdua bisa bekerja sama, tapi masalahnya kalau berbeda pilihan... Itu baru jadi sumber keributan baru" ujar Yusuf Martak.
 
"GNPF tetap konsisten dengan jagoannya, Bpk. Anies Baswedan' tapi kalau nanti GNAI tidak mendukungnya bagaimana ?... Jawabannya jelas GNAI bisa mendukung orang lain' umpamanya mendukung Prabowo Subianto dan itu jelas saya beserta anggota GNPF siap-siap baku hantam" kata Yusuf Martak dengan nada khawatir.
 
Kekhawatiran Yusuf Martak jika GNPF & GNAI tidak sejalan hingga berujung gesekan antar pendukungnya masing-masing' bisa jadi GNAI menjadi duri dalam daging bagi GNPF dikemudian hari karena satu jalur beda visi.
 
"Pendiri GNPF adalah saya sendiri, saya murni seorang oposisi tapi GNAI itu kan pendirinya masih bagian dari Pemerintah' mungkin saya anggap mereka itu boneka penguasa" tegas Yusuf Martak.
Kecurigaan Yusuf Martak dengan hadirnya GNAI dinilai sebagai upaya pelemahan GNPF yang terlebih dahulu eksis sejak 2017 silam.
 
Jika benar GNAI itu boneka pemerintah, maka GNPF harus waspada karena ada unsur penggembosan kekuatan dan harus diawasi perkembangannya.
 
"GNAI bisa dianggap membahayakan eksistensi GNPF, sebab saya dapat kabar bahwa sisa-sisa pengikut PA 212 mulai ikut bergabung dan mulai terjadi pengendoran kekuatan" ujar Yusuf Martak.
"Saya akan bicarakan ini kepada semua anggota untuk tetap konsisten berada di bawah panji GNPF dan tidak tergiur dengan rayuan gerakan lain yang tujuannya tidak sejelas kami" kata Yusuf Martak.
 
CMIIW

Kamis, 09 Juni 2022

Wawancara Dengan Faris Faza Ghaniyyu (Petinggi Hizbut Tahrir Jawa Barat)

 
Faris Faza Ghaniyyu

Saya pernah melakukan wawancara dengan Faris Faza Ghaniyyu, petinggi Hizbut Tahrir Jabar.
“Jadi antum ingin wawancara dengan ana ?” tanya Faris.
“Kalau anda bersedia, bisakah meluangkan sedikit waktu saudara” kata ku.
 Faris tersenyum. ”Ana punya waktu, sampai tengah malam pun ana sanggup. Pertanyaan apa yang antum ingin ajukan?”
“Apa yang mengejutkan bagi anda mengenai Pemilu 2024 ?”
 Faris menjawab…
“Mereka khawatir dengan masa setelah Pemilu 2024 nanti,
sehingga menyia-nyiakan keharmonisan mereka yang semu,
kadang dengan lebih mempercayai quick count daripada hasil rekapitulasi di TPS,
atau melakukan sujud syukur terlalu dini sebagai perayaan kemenangan.”

“Dengan ribuan bahkan jutaan pemilih dari sebuah “Tindakan Demokrasi”,
mereka memenuhi TPS seperti gerombolan semut mengerumuni gula.”

“Bahwa dengan semua hasil rekapitulasi yang fantastik,
dan fanatisme ideologi yang penuh karya besar
mereka masih bergulat dengan masalah receh seperti ini”

Tangan Faris memegang tanganku
dan aku diam sebentar.

Dan kemudian aku bertanya…

“Sebagai anak muda yang kritis, apa pelajaran kehidupan
yang ingin engkau ajarkan pada anak-anakmu kelak soal politik?”

“Agar mereka belajar bahwa agar kekuasaan mencintaimu,
buat mereka merasa menang untuk pengorbananmu.
Dan bila hal ini tidak bekerja,
buat hidup mereka seperti di pinggir rel kereta api.”

“Untuk belajar memaafkan setelah membunuh hak politikmu sendiri,
namun tidak lupa menyalahkan penguasa dan oposisi.”

“Untuk belajar bahwa hanya perlu beberapa detik
untuk membunuh cita-cita kebangsaan yang antum cintai,
dan perlu seumur hidup untuk membangkitkan semangatnya kembali.”

“Untuk belajar bahwa orang yang korup
bukanlah orang yang bekerja santai,
namun orang yang tahu bagaimana mendapat uang
dari sentimen ideologi politik seperti ini.”

“Untuk belajar bahwa ada orang-orang
yang mengatakan mereka mencintai antum sepenuh hati,
namun sesungguhnya berharap antum terbakar di atas api unggun pramuka
karena antum memiliki lebih banyak gratifikasi dari pada mereka.”

“Untuk belajar bahwa dua orang dapat
melihat satu hal yang sama
dan melihatnya berbeda,
namun perlu partai politik
untuk menjadikan hal itu sebuah kemudahan.”

“Untuk belajar bahwa tidaklah cukup bahwa mereka
memaafkan satu sama lain;
mereka harus mengikutkan ketua umum partai bersama mereka.”

“Terima kasih atas waktu anda,” kata saya penuh hormat.

“Apakah ada hal lain
yang antum ingin agar anak anda ketahui?” Tanya Faris

Faris tersenyum dan berkata,
“Hanya agar mereka tahu bahwa ana – hanyalah seorang martir.”

Senin, 16 Mei 2022

TUHAN PUN BERPOLITIK DALAM MENGATUR REJEKI

 
Urusan rejeki itu yang mengatur itu Tuhan Yang Maha Esa, Urusan jodoh itu yang mengatur adalah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Manusia hanya bisa berencana dan berusaha selagi masih ada kesempatan yang diberikan oleh Tuhan.
Keluhan, Nyinyiran dan Umpatan kerap menggema diatas bumi yang semakin tua ini. Keluhan manusia menceritakan tentang kelaparan dan kemiskinan, Nyinyiran manusia selalu mengarah kepada ketimpangan keadilan yang diskriminatif dan Umpatan manusia hampir setiap hari mewarnai persaingan dalam kehidupan yang tidak seimbang.
 
Tuhan pun mencoba manusia-manusia dengan segala halangan dan rintangan yang nyata di depan mata. Manusia sendiri kadang lebih bodoh daripada binatang yang sejak lahir tidak berakal. Mereka menyikapi keputusan Tuhan telah merugikan mereka sendiri, padahal Tuhan amat jarang merugikan HambaNya sendiri kecuali kalau Tuhan mulai murka.
Tuhan pun berpolitik, mengatur rejeki manusia dengan rapi tapi terkadang masih ada yang mengeluh karena belum dianggap cukup.
 
Tuhan bermain politik karena manusia juga bermain politik. Manusia menyelewengkan keadilan kepada sesama manusia, maka Tuhan pun juga melakukan hal serupa.
 
Mengapa demikian ?
Tuhan itu memang benar-benar adil karena ikut mengatur kehidupan manusia, agar mereka selalu patuh pada PerintahNya.
Sungguh manusia tidak mengerti sepenuhnya, mengapa tidak ada yang sama diantara mereka ?
 
Tentu kesamaan hanya membuat dunia menjadi hambar dan tidak jauh berbeda dengan suasana yang ada sekarang ini.
Kesamaan nasib membuat dunia tidak asyik dihuni dan dilihat oleh sang Pencipta. Perbedaan adalah fitrah yang tidak bisa ditolak, termasuk perbedaan rejeki.
 
Kalau rejeki disama-rata-kan, maka orang yang kurus menerima jatah yang sama dengan orang gemuk. Orang kurus mana bisa menghabiskan jatah orang gemuk yang kelewat banyak.
Begitu pun orang gemuk yang diberi jatah sama dengan orang kurus, mungkin dianggap kurang nampaknya.

Minggu, 22 Agustus 2021

9 Alasan Kenapa Banyak Orang Tidak Senang Dengan PDI-P Belakangan Ini

 
Foto : Firdaus Oiwobo
 
Oleh : Firdaus Oiwobo
 
 1. TIDAK ADA DARI PARTAI (PDI-P) YANG MENDUKUNG KEBEBASAN BERPIKIR YANG MERUPAKAN SYARAT DASAR UNTUK PERKEMBANGAN MENTAL SEJATI
 
Berlawanan dengan Deklarasi Hak Asasi Manusia oleh PBB pada Artikel-19 yang mengatakan, “Setiap orang memiliki hak untuk bebas berpendapat dan berekspresi; hak ini termasuklah kebebasan memberikan pendapat tanpa paksaan dan mencari dan menerima serta mengolah informasi dan gagasan lewat media apapun dan tanpa batasan.”
 
 2. PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (PDI-P) ADALAH FAKTOR TERBESAR YANG BERTANGGUNGJAWAB DALAM SEJARAH POLITIK NASIONAL YANG MEMBAWA PADA KEMATIAN HATI NURANI JUTAAN ORANG DALAM PERANG MELAWAN POLITIK IDENTITAS YANG DISEBUT PERANG CEBONG vs KAMPRET.
 
 3. PDI-P MENDISKRIMINASI ANTARA NASIONALIS DAN AGAMIS DALAM HAL HAK
 
Kembali, berlawanan dengan UU PEMILU tentang hak pilih waga negara  “Setiap orang memiliki semua hak dan kebebasan dalam deklarasi kebebasan ini, tanpa pembedaan dalam hal apapun, seperti ras, warna, jenis kelamin, bahasa, agama…..”
 
4. PDI-P TELAH MEMBUAT MANUSIA TERPISAH SELAMA 2 PERIODE PEMERINAHAN. 
 
POLITIK IDENTITAS MENCIPTAKAN PARA FANATIK DAN MEMPROVOKASI MEREKA UNTUK MEMBENCI MANUSIA LAIN YANG AGAMANYA BERBEDA. DAN INI ADALAH HAMBATAN UTAMA DALAM MELAKSANAKAN PERILAKU KEBBASAN DEMOKRASI BAGI SETIAP INDIVIDU (PALING TIDAK YANG MELAKSANAKAN DEMOKRASI BERSIH DENGAN SERIUS).
 
Ini juga melanggar UU PEMILU mengenai hak asasi kebebasan berideologi.
 
5. PDI-P MEMANFAATKAN PSIKOLOGI MANUSIA DENGAN MENAKUT-NAKUTI ORANG DENGAN HUKUMAN MENGERIKAN SETELAH MEREKA MELIHAT KEKALAHAN DALAM PEMILU LEGISTALIF. 
 
MAKA IA MENGUBAH ORANG MENJADI PASIEN MENJADI GILA PERMANEN ATAS KETAKUTAN TERHADAP PHOBIA DEMOKRASI YANG SESUNGGUHNYA KARENA TIDAK MANUSIAWI.
 
 6. DALAM IDEOLOGI PDI-P, MASYARAKAT DIPIMPIN OLEH KEADILA SEMU, BUKANNYA RASIONALITAS DAN TINGGINYA KEILMUAN POLITIK.
 
Sekali lagi ini tidak sesuai dengan UU PEMILU mengenai hak asasi kebebasan berideologi selain ideologi PDI-P yang mengatakan “Semua manusia dilahirkan bebas menentukan jalan politiknya dan  mendapatkan kesejahteraan yang sama dalam sebuah doktrin keadilan merata. mereka dibekali nalar dan rasio dan mesti berhubungan satu sama lain dalam persaudaraan antar ideologi”.
 
7. DALAM DUNIA POLITIK MODERN, KEBEBASAN DEMOKRASI MUTLAK TIDAK BOLEH GAGAL DALAM MENCIPTAKAN BANGSA YANG AGAMIS, DAMAI DAN BERADAB.
 
8. DALAM SEJARAH DUNIA POLITIK, DEMOKRASI AKAN SULIT MAJU, BILA PERNAH MENDORONG KEMAJUAN ILMU AGAMA, MALAH ILMU AGAMA CENDERUNG MENEKAN KEBEBASAN BERIDEOLOGI POLITIK.
 
Ingat penyiksaan mental dan fisik mengerikan dari ratusan aktivis pro reformasi dan di masa kejayaan ORDE BARU.
 
9. PDI-P MEMBATASI KEBEBASAN PRIBADI PADA CAKUPAN YANG LUAS.
 
Kembali ini berlawanan dengan UU PEMILU, dimana “Setiap orang memiliki hak untuk bebas bergabung, berideologi dan memilih partai politik yang disukainya.
 
Hak ini termasuk kebebasan merubah jalan politik, ideologinya, dan kenikmatan dalam persaingan antar partai politik, baik parpol itu sendiri atau dalam koalisi parpol satu dengan parpol yang lain secara terbuka, untuk menunjukkan ideologi atau mazhab politiknya dalam ajaran, praktek, dan pengamatan.”
 
 
Jakarta, 5 Juli 2018

Kelebihan dan Kekurangan Poligami

Foto : Soni Eranata

Oleh : Abu Husein At-Thuwailibi/Soni Eranata

Ada banyak alasan para pria menyenangi poligami. Mulai dari kekecewaan pada istri pertama yang mandul atau lemah dan sakit. Beberapa memandang bahwa wanita menyukai dimadu. Tapi kasus Aa’ gym, dimana ia ditinggalkan banyakpenggemarnya dari kalangan ibu2, gara2 poligami, menunjukkan wanita pada hatinya tidak menyetujui poligami. 

Landasan bahwa poligami dikarenakan laki2 lebih bernafsu dari wanita juga relatif. dalam beberapa kasus, wanita malah lebih memiliki nafsu seks yang lebih tinggi dari suaminya. Dan alasan bahwa perempuan lebih cepat tua adalah tidak jujur.

Efek sosial yang bisa kita saksikan dalam kehidupan keluarga yang berpoligami sangat banyak. di antara kita mungkin pernah menyaksikannya. Pada masa tua, sang ayah akan menjadi korban dari keluarga banyak istri yang dibentuknya. Polarisasi yang berpusat pada istri dan anak2nya dan keluarganya. Kompetisi antar istri. Dan anak yang menyalahkan sang ayah karena tidak memperhatikannya. 

Suara2 keras dan ketidakpercayaan dalam keluarga. Dalam kasus di negara2 berkembang, seringkali poligami berakibat pada kemiskinan yang parah. Bila terjadi pada seorang ayah yang kaya, konspirasi memperebutkan harta warisan menjadi isu utama. nilai negatif yang mengambang dalam lingkungan keluarga , mengancam perkembangan anak. Dan yang jelas sekali dalam sebuah keluarga seperti ini adalah adanya kecemburuan.

Masyarakat pecinta poligami dalam agama islam, mengeksploitasi lebih lanjut. Mereka merasa berhak memiliki paling banyak empat istri, bukan selama hidupnya, tapi dalam saat bersamaan. Artinya, bila sang suami membutuhkan wanita lain, sementara ia telah punya 4 orang istri, ia tinggal menceraikan satu, dan mengawini satu sehingga posisi maksimal tetap empat. Hal ini menjadi siklus tak berkesudahan yang membuat para istri semakin tak berdaya.

Landasan tekstual umat islam disini adalah ayat ketiga dari Surah Annisa yang berbunyi:
 

[4:3] Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. 

Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Walau demikian, kita bisa memeriksa mengenai benarkah ayat ini mengabsahkan poligami dengan melihat beberapa aspek dari ayat. Bila kita melihat pada asbabun nuzul (sebab2 turunnya) dari ayat ini, kita temukan dalam hadist bahwa ayat ini turun semasa perang Uhud. Suatu masa dimana banyak lelaki muslimin syahid dalam perang dan meninggalkan banyak anak gadis yang yatim. 

Hal ini senada dengan ayat2 sebelum dan sesudahnya yang membahas mengenai anak yatim. Maka lebih masuk akal bila kita memandang poligami yang dimaksud disini adalah terhadap gadis2 yatim, bukan pada wanita biasa yang memiliki orang tua yang hidup. Bila Muhammad ingin menyatakan bahwa wanita ini bukan anak yatim, kenapa ia tidak meletakkan ayat ini dalam bagian annisa 19-25 yang jelas penjelasan mengenai wanita2 yang boleh dikawini?
 

Anda bisa membayangkan sebagai seorang gadis yatim, yang tidak memiliki ayah, akan berakhir dalam keluarga sebagai salah seorang istri. Bisa anda bayangkan diskriminasi dalam keluarga dimana salah satu istri adalah wanita berorang tua dan istri lain adalah anak yatim? Seolah bila anda seorang gadis yang yatim piatu, maka anda akan berakhir dalam keluarga poligami.
 

Bila kita memeriksa hadist lebih lanjut, kita temukan kisah Ali ra yang merupakan suami dari fatimah, putri Nabi Muhammad. Saat Ali tergoda untuk poligami, ia melamar anak dari abu jahal. 

Muhammad seketika mendengar itu langsung melarangnya dan mengatakan, putri seorang nabi tuhan tidak pantas berdampingan dengan putri seorang musuh tuhan. Bahkan nabi tau hal ini akan menyakiti hati anak nya. Ali membatalkan lamarannya.
 

Alasan paling banyak bagi legalitas poligami selain dari kebutaan terhadap teks kitab suci adalah fakta bahwa wanita lebih banyak dari laki2. Kenyataannya memang demikian. Secara statistik laki2 lebih sedikit dari wanita dalam mayoritas negara di dunia (India termasuk pengecualian). 

Secara rata2 perbandingannya adalah 52% wanita dan 48% pria. Ini bila dinyatakan perbandingan menjadi 1,08:1. Bila perbandingan yang sangat kecil ini kita bandingkan dengan pernyataan qur’an bahwa satu suami untuk 4 istri atau 4:1, jelas tidak seimbang.
 

Alasan lain adalah menghindari seks bebas dan perselingkuhan. Well, seks bebas memang jadi masalah, tapi apakah agama merupakan solusi. Tidak. Karena penyebab utamanya adalah moralitas, dan kita tahu moralitas tidak memerlukan agama. 

Bahkan adakalanya, agama malah melanggar banyak sekali prinsip moral. Marilah kita ke penjara dan melihat, berapa banyak narapidana yang memiliki keyakinan yang kuat terhadap agama dan ajarannya. Beberapa peneliti menunjukkan hampir 100%.

Bogor, 2 Juli 2018