Kamis, 06 Mei 2021

Soni Eranata Sang Provokator

Satu hal yang membuat netizen heran adalah kenapa Soni Eranata yang nyata-nyata mengidap Skizofrenia bisa mendapat panggung sosial ?
Penyebabnya adalah gaya bicaranya yang tidak mencerminkan penampilan dan tampangnya nan kontras.
 
Kontras dengan apa yang dilihat banyak orang bahwa Soni Eranata alias Maaher Atthuwailibi ini berprofesi sebagai pedagang buku dan parfum bisa jadi pendakwah walau perilakunya barbar.
Keluarga Soni Eranata mengungkapkan suatu rahasia yang selama ini disembunyikan. Ketika Soni Eranata wafat di dalam ruang tahanan, banyak spekulasi berseliweran.
 
Spekulasi itu berupa penyakit yang di-idapnya, menurut pernyataan resmi ia wafat akibat penyakit gangguan saluran pencernaan. Ada pula yang bilang kalau mendiang Soni Eranata ini wafat akibat tekanan bathin yang membuatnya tersiksa, bahkan celakanya lagi Soni Eranata disebut-sebut mengidap HIV karena disangkut pautkan dengan masa lalunya yang merupakan seorang Homo.
Namun, ketiga hal itu dibantah dengan bijak oleh pihak keluarga. 
 
Justru bukan HIV dan Tekanan Bathin yang membuat Soni Eranata tutup usia dalam jeruji besi. Seperti yang dikatakan tadi, ia wafat akibat gangguan saluran pencernaan namun menurut keluarga itu bukan penyakit sensitif. Penyakit sensitif yang di-idap sebelum terserang gangguan pencernaan adalah sindrom skizofrenia.
 
Mendiang Ustadz Maaher dikenal punya masa lalu yang berantakan, ia dulunya merupakan anak badung yang kerap berbuat nakal.
Saat masih kelas 2 SLTA, Ustadz Maaher gemar bolos kuliah untuk ikut tawuran dan jajan di warung.
Kelakuannya yang indisipliner membuat bapak-ibunya kerap diundang ke sekolah. Meski sudah di bina oleh orantuanya hingga dipukuli di depan tetangga tidak membuat Soni Eranata remaja kapok babar blas.
 
Kenakalannya memuncak saat ia mulai bermain cinta, namun bukan cinta terhadap wanita melainkan terhadap sesama pria.
Soni Eranata diduga sudah lama terobsesi dengan orientasi Homoseksual namun keluarga tidak menyadarinya.
 
Puncaknya saat sedang istirahat ia pergi ke WC dan ia memergoki sesama siswa pria disana. Dan secara terang-terangan ia mengaku sebagai maho dan sudah beberapa kali menjalankan aksi nistanya.
Sampai akhirnya Soni Eranata kepergok berbuat mesum dengan sesama siswa pria yang membuatnya harus di drop out dari sekolahan padahal tahun itu pula ia akan menjalani Ujian Kenaikan Kelas 3.
Terlanjut membikin malu pihak sekolah dan keluarga, Soni Eranata pernah dikurung dalam kamar sebagai hukuman atas perbuatan gilanya itu.
 
Ayah Soni Eranata mengaku geram dengan perbuatan anaknya itu. Bahkan Soni Eranata pernah mengamuk di rumah dan membanting segala apa yang ada di sekitarnya.
Kejadian ini terjadi pada tahun 2008 saat Soni Eranata menginjak usia 16 tahun. Kemarahan Soni Eranata dipicu oleh tidak tahannya suasana selama dikurung dalam kamar selama seminggu.
Disinilah sindrom skizofrenia yang menjangkit jiwa raganya membuat Soni Eranata mulai berkata kasar dan mengumpat dengan kalimat-kalimat tidak logis.
 
Soni Eranata di-ibaratkan seperti orang mabuk, ngamuk-ngamuk tidak jelas dan pernah mengigau selama dikurung dalam kamar. Sindrom skizofrenia membuat mata hati Soni Eranata tertutup dan mulai membuatnya seperti binatang buas yang kerasukan.
 
Meski mengidap sindrom skizofrenia, salah satu sifatnya yang khas adalah sifat penakut. Meski kerap berkata kotor sayangnya dia sendiri adalah seorang penakut.
Soni Eranata mencoba untuk kabur dari dalam kamar lewat memecahkan kaca jendela. Namun, usahanya gagal dan pernah mengalami cedera serius akibat benturan saat sindrom skizofrenia yang di-idapnya membuat sosoknya berbeda dari yang lain.
 
Drop out dari SLTA, mendiang Soni Eranata dibawa ke Pesantren yang berfaham Wahabi Salafi, tepatnya di Yogyakarta.
 
Selama menjalani pendidikan di Pesantren Salafi, ia kerap berdebat dengan ustadz-ustadz senior. Perdebatannya itu kerap memancing emosi para santri lain yang membela ustadz-ustadz di pesantren tersebut.
 
Puncaknya ketika sedang jam makan siang, dalam sebuah prasmanan Soni Eranata berlagak layaknya seorang "Penguasa". Pemicunya sepele yakni rebutan lauk pauk saat antre makanan. Soni Eranata secara brutal melontarkan kata-kata yang kurang sopan dan bar-bar.
 
Ucapan bar-bar Soni Eranata memicu keributan antar para santri di ruang makan, bahkan pengasuh pondok pesantren yang mengetahui kejadian itu tidak bisa berbuat banyak.
Soni Eranata pun dikeluarkan dari pesantren akibat perilakunya yang bobrok dan juga ucapan kasarnya. 
 
Setelah gagal menimba ilmu di Yogyakarta, Soni Eranata dipindahkan ke Bogor untuk mengikuti pengajian tertutup. Sejak saat itu Soni Eranata menjadi bagian dari Jama'ah Salafi yang kerap mengadakan pengajian tertutup tersebut.
 
Soni Eranata resmi menjadi bagian dari Salafi, bahkan ia juga bergabung dengan organisasi ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah) dimana banyak ustadz-ustadz Salafi menjadi bagian dari struktur pengurus.
 
Soni Eranata bergabung dengan ANNAS lantaran jijik dengan Aliran Syiah yang menghalalkan kawin kontrak. Dari sinilah petualangan liarnya sebagai pendakwah salafi kian membahana.
Sosoknya mulai mencuat ke publik setelah berseteru dengan seorang ulama yang datang dalam acara bedah buku "Sejarah Wahabi". Soni Eranata emosi melihat ada seorang ulama yang tidak satu manhaj dengannya membeberkan rahasia dan sejarah salafi. Ulama tersebut bernama Syeikh Idahram, anggota Nahdlatul Ulama.
 
Kendati di Bogor ada Nahdlatul Ulama, pengaruh Salafi amat kental disana. Soni Eranata adalah satu diantara ratusan pendakwah bermanhaj salafi. Namun, istilah sebagai "Salafi" yang tersemat dalam alirannya tidak mencerminkan wataknya.
 
Soni Eranata mengklaim dirinya sebagai Salafi namun moralnya tidak pas dengan gaya busananya.
Namanya juga anak badung, Soni Eranata sejak lama suka berbuat keonaran karena sikap barbar layaknya suku pendalaman pemakan daging. Ia melabrak Syaikh Idahram karena menurutnya isi buku tersebut dianggap merendahkan dan melecehkan nama baik aliran Salafi.
 
Untungnya Soni Eranata berhasil ditenangkan oleh jamaah yang hadir dalam pertemuan itu. Soni Eranata baru sadar bahwa dirinya mengamuk saat bulan puasa dan ia mengklaim tindakkanya itu mencoreng kesucian bulan puasa.
 
Dan keonaran itu berakhir damai bahkan Soni Eranata pulang lebih cepat sebelum Maghrib.
Selanjutnya masih banyak kisah-kisah penuh kontroversi dari sosok ini. Namun, semua sudah tahu endingnya kan... Ia wafat di usia relatif muda dan meninggalkan banyak jejak buruk yang mengotori perjalanan hidupnya.
 
Baginya tidak ada hari tanpa mencela orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya.
Ia juga memusuhi pemerintah karena dianggap zolim lantaran membubarkan HTI pasca aksi bela islam di Monas. Kebetulan Soni Eranata juga ikut hadir ke sana saat menuntut hukuman bagi Ahok, Gubernur DKI kala itu.
 
Rupanya, segala yang terjadi pada Soni Eranata adalah bagian dari rencana Tuhan menghukumnnya.
Kenapa demikian ?
 
Tuhan mungkin sudah "Muak" terhadap hamba-hambaNya yang kerap mengatasnamakan agama demi kepentingan perut dan tabungannya belaka. Tuhan tidak suka dengan praktik seperti itu karena agama yang semula sakral dan suci menjadi alat pemuas nafsu berkuasa. Sungguh celaka bagi para investor kemunkaran yang membungkus kebencian atas nama pembelaan terhadap agama.
 
Soni Eranata telah jadi korban dari ulah dan perbuatannya sendiri yang menyeretnya ke jeruji besi dalam keadaan sakit parah. Petualangan barbar nya sudah berakhir namun jejaknya masih bisa kita temukan hingga hari ini. Kini ia telah menghadap YME untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya sebagai manipulator agama.
 
*****

Rabu, 14 April 2021

Otak Homo Erectus (Manusia) Justru Dengan Mirip Kera (Monyet)

 Foto : Homo Erectus
 
Ada temuan menarik berdasarkan studi terbaru di jurnal Science (Vol. 372 Issue 6538) yang dirilis Jumat 9 April 2021. Ternyata, otak manusia modern (Homo) berkembang 1 juta tahun setelah kemunculannya atau saat Homo erectus pertama bermigrasi keluar dari Afrika pada 1,7 juta hingga 1,5 juta tahun yang lalu. Temuan ini menjadi bantahan atas penelitian sebelumnya yang memperkirakan perkembangan kognitif otak bersamaan dengan evolusi dari Australopithecus ke Homo pada 2,8 juta hingga 2,5 juta tahun yang lalu
 
Temuan tertua yang memaparkan perbedaan otak mirip kera dengan otak mirip manusia modern ini jatuh pada pada lima tengkorak Homo erectus di Dmansi, Georgia. Kerangka itu berusia sekitar 1,8 juta tahun dan terawat dengan baik yang wafat di antara masa remaja dan tua.
 
"Fosil Dmanisi sangat penting, karena mereka menunjukkan kepada kita kalau sekitar 1,8 juta tahun yang lalu, Homo purba memiliki otak primitif, mirip dengan Australopithecus dan kera besar," kata Christoph Zollikofer, salah satu peneliti dari University of Zurich.

Mengutip dari Live Science, Zollikofer mengatakan bahwa sebelumnya analisis pada fosil Homo tertua berusia 2,8 juta tahun di Ledi-Geraru, Ethiopia tak memberikan apa-apa.

"Perkembangan otak itu untuk upaya atas tuntutan lingkungan atas kelangsungan hidupnya," ujar Rusyad Adi Suriyanto, Paleoantropolog di Laboratorium Bioantropologi & Paleoantropologi Universitas Gadjah Mada yang juga salah satu peneliti.

"Kan medan di luar Afrika berbeda, jadi mereka cari akal untuk bekerja lewat otaknya. Kemudian aktivitas otaknya makin meningkat," jelas Rusyad pada National Geographic Indonesia, Senin (12/04/2021).

Hasil pengamatan itu diungkap dengan memeriksa bagian dalam tengkorak fosil manusia purba yang menampung otak (endocast) lewat 3D CT (computed tomography) Scan. Sebab untuk meneliti otak merupakan hal yang sulit karena organ yang sangat lunak itu tak memfosil.

Endocast yang diamati oleh para peneliti berjumlah hampir 40. Mereka berasal dari tengkorak manusia modern, Homo erectus, Australopitheccus sediba, dan Homo naledi untuk dibandingkan.

"Homo erectus di Jawa, terutama di Blora, itu merupakan Homo erectus paling muda dan lengkap untuk diteliti. Tak hanya dari Cina, Afrika, dan Georgia saja," paparnya.

Pembandingan itu juga dilakukan pada kerabat manusia--kera besar, yakni 81 simpanse, 27 bonobo, 43 gorila, dan 32 orangutan.

Tempat yang mewadahi otak itu menyimpan bukti-bukti seperti alur tipis dan gundukan kecil yang memungkinkan mereka menganalisisnya.

Pada fosil Homo erectus yang sudah berkembang di dataran Eurasia, lewat pemindaian ternyata otak mereka cenderung lebih kompleks. Perkembangan itu juga dapat dilihat di bagian tulang dahi yang makin maju untuk menyimpan lobus frontalis yang berperan dalam kognisi.

"Lobus frontalis ini sangat penting untuk menggambarkan kecerdasan evolusi otak manusia yang melahirkan bahasa, kognisi sosial, dan membuat alat," Rusyad menjelaskan. "Kalau kera, apa yang dilihat di depan cuma langsung dipakai, atau ada batang kayu untuk menjebak semut untuk dimakan, seperti oleh simpanse."

Temuan Rusyad dan tim hanya berkonsentrasi pada Homo erectus. Alasannya, jenis manusia purba ini memiliki rentang waktu kemunculan dan kepunahan yang relatif lama sehingga menarik untuk diteliti.

Dirinya tak menampik kemungkinan bila nantinya ada riset terbaru untuk memahami perkembangan otak pada manusia purba lainnya seperti Homo florensiensis.

"Secara keluruhan, perlu diperbanyak jumlah sampel untuk sebagai evolusi otak ini, mungkin bisa meliputi bukan genus Homo saja, tapi pada genus lain seperti Australopithecus juga. Makin banyak makin baik," sarannya.

*****

Sumber : National Geographic, edisi April 2021

 

Selasa, 30 Maret 2021

Cinta Laura In Stuart Weitzman Maroon Stilleto Boots

Beautiful girl from Indonesia, Cinta Laura Kiehl, wears maroon colored stilettos in order to promote the latest product from renowned designer Stuart Weitzman.

Stuart Weitzman has released a new product to be introduced at the spring fashion show but still wears some elements of winter clothing. People call it a crossover of seasons or the transition of seasons from a world of snow to a world of spring. Cinta Laura proves that maroon boots are still in vogue despite the changing seasons. She hopes to be part of a crazy trend but still sensible and sensible dress ethics.

Jumat, 12 Februari 2021