Sabtu, 10 Desember 2022

Hyper Mommy, Film Terbaru Tokusatsu Buatan GIGA Ltd.

Hyper Mommy

Kabar terbaru datang dari industri film tokusatsu Jepang, GIGA Ltd. Perusahaan film yang sudah lama berdiri sejak tahun 1995 ini dikabarkan hendak merilis film terbarunya pada Januari 2023 nanti. 

Film ini mengambil tema Kyodai Hero atau Pahlawan Raksasa. Judul film ini adalah Hyper Mommy yang merupakan parodi dari serial Ultraman buatan Tsuburaya Production. 

Hyper Mommy adalah Ultraman versi wanita yang sudah dibuat sejak lama dengan tokoh utama yang berbeda pula. Tokoh utamanya jelas seorang wanita yang bisa berubah menjafi Hyper Mommy.

Dari semua film Hyper Mommy yang pernah dirilis oleh GIGA Ltd. Film seri Hyper Mommy kali ini lebih baik daripada sebelumnya yang lebih berisi "Adegan Berantakan". 

Sebab, menurut data yang dicatat bahwa franchise Hyper Mommy seri terdahulu kurang laris dan angka penjualannya mengalami penurunan. 

Hal itu disebabkan tidak rapihnya pengeditan dan pengambilan gambar semasa pra-produksi yang memakan waktu 2 bulan. Namun, sutradara film Hyper Mommy kali ini' Tohru Sakata telah memperbaiki kualitas film agar lebih menjual dari sisi komersil. 

Tohru Sakata menjelaskan "Hyper Mommy adalah film baru yang benar-benar baru dari segi pra-produksi dan pasca produksi karena ditunjang canggihnya software supaya lebih berkelas serta menghibur". 

GIGA Ltd nampaknya memiliki alasan seperti yang dijelaskan Tohru Sakata tadi bahwa film baru harus digarap dengan cara baru untuk meningkatkan nilai komersil. 

Januari 2023 dijadwalkan menjadi bulan peluncuran film Hyper Mommy. Jelas, ini amat ditunggu mengingat lesunya angka penjualan produk membuat para sineas di perusahaan film GIGA Ltd harus bekerja ekstra keras.

Kita tunggu saja apa hasilnya dan kita berharap ini akan menjadi sukses kedepannya. Hyper Mommy harus terjual laris jika perusahaan GIGA Ltd tidak mau gulung tikar.

*****

Sabtu, 03 September 2022

Dana Mitchel Morph Into Pink Lighspeed Rescue Ranger


























TYPE OF SCENE : MORPHING SCENE
ACTRESS : ALISON MACINNIS
ROLE : DANA MITCHELL
EPISODE : EPISODE 01 "OPERATION LIGHTSPEED"


Kamis, 25 Agustus 2022

Rabu, 20 Juli 2022

MUNCULNYA G.N.A.I. ADALAH PEMBODOHAN POLITIK

 
Oleh : Ust. Zainal Abdi Alamsyah L.C.
 
Gerakan Nasional Anti Islamophobia (GNAI) adalah sebuah paket khusus yang menjadi buah bibir belakangan ini.
Motifnya sama dengan Gerakan Nasional Pengawas Fatwa Ulama (GNPF-Ulama). Kedua gerakan receh ini sudah ketahuan belangnya sejak awal deklarasi. 
 
Ujung-ujungnya jelas mendukung salah satu kandidat calon presiden RI, tapi itu tidak mempan bagi orang-orang yang sudah dikibuli.
 
Kesuksesan GNPF-Ulama yang membawa Anies Baswedan menjadi Gubernur DKI nampaknya sudah membayang-bayangi GNAI.
 
Sosok penting dibalik suksesnya GNPF-Ulama yang membuat Anies Baswedan nangkring di kursi DKI-1 adalah Yusuf Martak.
Yusuf Martak sendiri ketika diwawancarai tadi pagi lewat telepon video mengatakan pendapatnya dengan sedikit berkelakar. "GNAI mungkin masih terbayang-bayang oleh kesuksesan GNPF, Tapi apakah GNAI sukses mengantar jagoannya memenangkan Pemilu ?... Nampaknya saya rasa belum bisa sama sekali karena cuma tipu daya belaka" ujar Yusuf Martak dalam wawancara eksklusif.
 
"GNPF masih punya tempat di hati umat Islam, bahkan propaganda-propaganda nya masih berseliweran di media sosial' tapi ini kan lain lagi... Saya juga ikut senang GNAI muncul sebagai kawan perjuangan, tapi saya juga menganggap mereka juga lawan" kata Yusuf Martak.
 
"Saya berpikir bahwa GNPF mendukung GNAI itu sah-sah saja tapi kalau kedua kelompok ini berbeda tujuan meski di jalur yang sama' rasa-rasanya GNAI tidak lebih dari omong kosong" ungkap Yusuf Martak dalam telepon Video.
 
Yusuf Martak sadar bahwa GNPF mulai memiliki rival sekaligus mitra perjuangan karena sama-sama berada di jalur oposisi. Tetapi, kalau GNPF dan GNAI berbeda pilihan soal capres' maka akan ada gesekan diantara keduanya dan makin memperparah situasi.
 
"Seharusnya mereka berdua bisa bekerja sama, tapi masalahnya kalau berbeda pilihan... Itu baru jadi sumber keributan baru" ujar Yusuf Martak.
 
"GNPF tetap konsisten dengan jagoannya, Bpk. Anies Baswedan' tapi kalau nanti GNAI tidak mendukungnya bagaimana ?... Jawabannya jelas GNAI bisa mendukung orang lain' umpamanya mendukung Prabowo Subianto dan itu jelas saya beserta anggota GNPF siap-siap baku hantam" kata Yusuf Martak dengan nada khawatir.
 
Kekhawatiran Yusuf Martak jika GNPF & GNAI tidak sejalan hingga berujung gesekan antar pendukungnya masing-masing' bisa jadi GNAI menjadi duri dalam daging bagi GNPF dikemudian hari karena satu jalur beda visi.
 
"Pendiri GNPF adalah saya sendiri, saya murni seorang oposisi tapi GNAI itu kan pendirinya masih bagian dari Pemerintah' mungkin saya anggap mereka itu boneka penguasa" tegas Yusuf Martak.
Kecurigaan Yusuf Martak dengan hadirnya GNAI dinilai sebagai upaya pelemahan GNPF yang terlebih dahulu eksis sejak 2017 silam.
 
Jika benar GNAI itu boneka pemerintah, maka GNPF harus waspada karena ada unsur penggembosan kekuatan dan harus diawasi perkembangannya.
 
"GNAI bisa dianggap membahayakan eksistensi GNPF, sebab saya dapat kabar bahwa sisa-sisa pengikut PA 212 mulai ikut bergabung dan mulai terjadi pengendoran kekuatan" ujar Yusuf Martak.
"Saya akan bicarakan ini kepada semua anggota untuk tetap konsisten berada di bawah panji GNPF dan tidak tergiur dengan rayuan gerakan lain yang tujuannya tidak sejelas kami" kata Yusuf Martak.
 
CMIIW

Kamis, 09 Juni 2022

Wawancara Dengan Faris Faza Ghaniyyu (Petinggi Hizbut Tahrir Jawa Barat)

 
Faris Faza Ghaniyyu

Saya pernah melakukan wawancara dengan Faris Faza Ghaniyyu, petinggi Hizbut Tahrir Jabar.
“Jadi antum ingin wawancara dengan ana ?” tanya Faris.
“Kalau anda bersedia, bisakah meluangkan sedikit waktu saudara” kata ku.
 Faris tersenyum. ”Ana punya waktu, sampai tengah malam pun ana sanggup. Pertanyaan apa yang antum ingin ajukan?”
“Apa yang mengejutkan bagi anda mengenai Pemilu 2024 ?”
 Faris menjawab…
“Mereka khawatir dengan masa setelah Pemilu 2024 nanti,
sehingga menyia-nyiakan keharmonisan mereka yang semu,
kadang dengan lebih mempercayai quick count daripada hasil rekapitulasi di TPS,
atau melakukan sujud syukur terlalu dini sebagai perayaan kemenangan.”

“Dengan ribuan bahkan jutaan pemilih dari sebuah “Tindakan Demokrasi”,
mereka memenuhi TPS seperti gerombolan semut mengerumuni gula.”

“Bahwa dengan semua hasil rekapitulasi yang fantastik,
dan fanatisme ideologi yang penuh karya besar
mereka masih bergulat dengan masalah receh seperti ini”

Tangan Faris memegang tanganku
dan aku diam sebentar.

Dan kemudian aku bertanya…

“Sebagai anak muda yang kritis, apa pelajaran kehidupan
yang ingin engkau ajarkan pada anak-anakmu kelak soal politik?”

“Agar mereka belajar bahwa agar kekuasaan mencintaimu,
buat mereka merasa menang untuk pengorbananmu.
Dan bila hal ini tidak bekerja,
buat hidup mereka seperti di pinggir rel kereta api.”

“Untuk belajar memaafkan setelah membunuh hak politikmu sendiri,
namun tidak lupa menyalahkan penguasa dan oposisi.”

“Untuk belajar bahwa hanya perlu beberapa detik
untuk membunuh cita-cita kebangsaan yang antum cintai,
dan perlu seumur hidup untuk membangkitkan semangatnya kembali.”

“Untuk belajar bahwa orang yang korup
bukanlah orang yang bekerja santai,
namun orang yang tahu bagaimana mendapat uang
dari sentimen ideologi politik seperti ini.”

“Untuk belajar bahwa ada orang-orang
yang mengatakan mereka mencintai antum sepenuh hati,
namun sesungguhnya berharap antum terbakar di atas api unggun pramuka
karena antum memiliki lebih banyak gratifikasi dari pada mereka.”

“Untuk belajar bahwa dua orang dapat
melihat satu hal yang sama
dan melihatnya berbeda,
namun perlu partai politik
untuk menjadikan hal itu sebuah kemudahan.”

“Untuk belajar bahwa tidaklah cukup bahwa mereka
memaafkan satu sama lain;
mereka harus mengikutkan ketua umum partai bersama mereka.”

“Terima kasih atas waktu anda,” kata saya penuh hormat.

“Apakah ada hal lain
yang antum ingin agar anak anda ketahui?” Tanya Faris

Faris tersenyum dan berkata,
“Hanya agar mereka tahu bahwa ana – hanyalah seorang martir.”